JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen (year-on-year) pada triwulan I 2026, menunjukkan akselerasi di tengah tekanan global, didorong konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 memperlihatkan tren penguatan yang konsisten di tengah ketidakpastian global.
Kinerja ini melampaui capaian triwulan IV 2025 yang berada di level 5,39 persen, menandai percepatan aktivitas ekonomi nasional.
Kementerian Keuangan menilai capaian tersebut sebagai indikasi keberhasilan kebijakan fiskal dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Selain itu, stabilitas ekonomi tetap terjaga dengan inflasi berada di kisaran 2,4 persen, mendukung daya beli masyarakat.
Dorongan dari sisi domestik menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan pada periode ini.
Konsumsi dan Investasi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026
Konsumsi rumah tangga mencatat pertumbuhan 5,52 persen, dengan kontribusi lebih dari separuh terhadap Produk Domestik Bruto.
Kondisi ini mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap kuat meskipun tekanan global belum mereda.
Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh 5,96 persen, menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi.
Belanja pemerintah meningkat tajam hingga 21,81 persen, menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan di awal tahun.
Percepatan realisasi anggaran sejak awal tahun dinilai memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi.
“Di tengah gejolak dan tekanan perekonomian global yang tidak menentu, kita masih bisa tumbuh 5,61 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan keempat tahun lalu yang 5,39 persen,” — Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Momentum ini menunjukkan perubahan pola pertumbuhan yang sebelumnya cenderung stagnan di kisaran 5 persen.
Sektor Produksi Menguat dan Fondasi Ekonomi Kian Solid
Dari sisi produksi, sektor manufaktur mencatat pertumbuhan 5,04 persen, lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.
Sektor perdagangan, pertanian, dan konstruksi juga menunjukkan kinerja positif yang merata.
Industri makanan dan minuman turut berkontribusi dalam menjaga aktivitas ekonomi tetap ekspansif.
Penguatan sektor-sektor ini menandakan basis pertumbuhan ekonomi semakin luas dan tidak terpusat pada satu sektor.
Pemerintah menilai kombinasi kebijakan fiskal dan dukungan sektor swasta menjadi kunci dalam menjaga stabilitas.
Langkah ini juga diimbangi dengan pengendalian inflasi agar tidak mengganggu konsumsi domestik.
Strategi Pemerintah Perkuat Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintah menyiapkan berbagai stimulus untuk menjaga momentum pertumbuhan pada paruh kedua tahun 2026.
Dukungan terhadap industri manufaktur menjadi salah satu fokus utama kebijakan.
Program insentif kendaraan listrik juga disiapkan untuk mendorong aktivitas ekonomi dan investasi baru.
Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat mesin pertumbuhan dari sisi produksi.
Selain itu, konsumsi domestik tetap menjadi andalan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi.
“Pertumbuhan 5,61 persen bukan tiba-tiba saja terjadi, tetapi by design,” — Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan strategi yang berkelanjutan.
Fondasi ekonomi yang kuat dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi ketidakpastian global ke depan.






